WeWork Menjadi We Failed ?

26 December 2019 0 By admin

Startup dengan valuasi yang cepat tinggi memang cukup rapuh untuk menghadapi kerasnya persaingan. Perusahaan rintisan (startup) seperti WeWork yang berpusat di i di 115 West 18th street, kota New York, Amerika Serikat (AS) terpaksa harus melakukan PHK terhadap 2400 karyawannya di seluruh dunia. Rumor PHK memang telah berhembus kencang di kalangan karyawan WeWork. Dua bulan pasca pengumuman batalnya WeWork mencatatkan saham di lantai bursa pada 16 September 2019 lalu, kinerja perseroan kian turun hingga saat ini.

Kegagalan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) berbuntut anjloknya nilai valuasi perusahaan. WeWork sempat memiliki nilai valuasi mencapai $47 miliar (sekitar Rp662,7 triliun dengan asumsi kurs Rp14.100 per dolar AS). Namun, angka itu kini terjun bebas menjadi hanya $6,94 miliar

“Kami harus melakukan beberapa penghapusan pekerjaan yang diperlukan. Tindakan ini akan membuat kita lebih kuat dan lebih mampu menghasilkan lebih banyak peluang selama beberapa bulan dan tahun mendatang,” tulis Marcelo Claure, Eksekutif WeWork melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada para karyawan, dilansir New York Times. Ia menambahkan bahwa pemangkasan dimulai di Amerika Serikat.

Kehancuran WeWork..

“WeWork adalah lingkungan baru untuk ruang kerja. Konsep ruang kerja bersama atau berbagi ruang kerja merupakan cara perubahan baru dalam hal bagaimana orang bekerja.”

Adam Neumann (founder) dan McKelvey (Arsitek) yang selanjutnya turut menjadi pendiri WeWork melahirkan proyek bernama Greendesk. Greendesk dijual dan dikembangkan dan menjadi cikal-bakal WeWork yang berkembang pesat dalam kurun waktu singkat.

Lima tahun berjalan tepatnya tahun 2015, valuasi WeWork menyentuh angka $10,5 miliar. Pelanggan yang membayar keanggotaan untuk menyewa ruang kerja bersama WeWork mencapai 23 ribu di 32 lokasi dengan minimum harga sewa $45 per bulan.

SoftBank mengalirkan investasi sekitar $8 miliar ke WeWork, yang membuat valuasi perseroan melonjak hingga $20 miliar pada 2017. Lalu tidak hanya disitu SoftBank kembali mengucurkan dana investasi potensial dengan total senilai $16 miliar di 2019 dan menjadikannya sebagai pemegang saham pengendali WeWork. Perusahaan pimpinan Masayoshi Son itu sukses melipatgandakan nilai valuasi WeWork sampai dengan $47 miliar.

Mendapat dana segar miliaran dolar sepertinya membuat Adam Neumann dan jajaran manajemen WeWork terlena. Investasi liar kerap dilakukan perseroan. Misalnya untuk membeli unit pesawat jet pribadi mewah senilai $60 juta. Jet pribadi jenis Gulfstream G650 ini digunakan Neumann dan keluarga kecilnya untuk terbang ke seluruh dunia. Akhirnya, pesawat itu dijual untuk menambal biaya operasional perusahaan.

Kejatuhan bisnis WeWork ini tidak semerta-merta mencerminkan buruknya industri perusahaan startup di bidang serupa. Salah satu perusahaan penyedia jasa ruang kerja bersama, Regus, yang kini bertransformasi menjadi International Workplace Group (IWG) bisa menjadi gambaran. Sebagai catatan, IWG juga mengelola sejumlah merek waralaba ruang kerja selain Regus, termasuk, Space, Signature dan HQ.

Berbeda dengan WeWork, IWG lebih stabil dan lebih lama dalam menjalani bisnis ini, akan tetapi tidak memiliki valuasi yang sebaik WeWork. IWG hanya pernah mencatatkan $3,7 Miliar dalam valuasi sementa WeWork mencapai $47 Miliar. Akan tetapi saham IWG yang diperdagangkan di London Stock Exchange di Indeks FTSE 250 sejak tahun 2000 telah melonjak lebih dari 60 persen dalam 12 bulan terakhir. Perseroan pun membuka peluang untuk melakukan IPO di Amerika Utara.

Pelajaran berharga dari kasus ini adalah, tidak mudah untuk membangun startup yang cepat memiliki valuasi tinggi karena sebagaimana pepatah mengatakan semakin cepat anda membangun semakin cepat pula anda akan terhempas jika tidak memiliki fondasi yang kuat. Tampaknya WeWork harus menelan pil pahit ini dan segera melakukan perubahan yang signifikan sebelum hancur total.