Lihatlah mereka yang berteriak anti KKN kini mencoba mencari pembenaran karena terpelihara oleh kekuasaan

- BS -
Sempalan Mahasiswa 98
7 June 2022

BONA

Verba Volant Scripta Manent

Parpol “Buta” Digital dan “Kolonial” Bersiaplah Terpental

Data sensus tahun 2020 mencatat bahwa jumlah penduduk Indonesia itu mencapai angka 270,2 juta jiwa. Jumlah tersebut naik 32,6 juta dari sensus sebelumnya yang dilakukan tahun 2010. Yang perlu loe pahami juga dari hasil sensus 2020 itu ada 69,38 juta dengan kategori milenial dengan tahun lahir diatas tahun 1980 dan di bawah tahun 1996 dan kategori generasi Z dengan tahun lahir 1997 s.d 2012 sebanyak 74,93 juta. Jadi kalau kita jumlahkan maka ada 144,31 anak milinial dan gen z di bumi nusantara ini.
Views: 50
0 0
Read Time:2 Minute, 58 Second

Data sensus tahun 2020 mencatat bahwa jumlah penduduk Indonesia itu mencapai angka 270,2 juta jiwa. Jumlah tersebut naik 32,6 juta dari sensus sebelumnya yang dilakukan tahun 2010. Yang perlu loe pahami juga dari hasil sensus 2020 itu ada 69,38 juta dengan kategori milenial dengan tahun lahir diatas tahun 1980 dan di bawah tahun 1996 dan kategori generasi Z dengan tahun lahir 1997 s.d 2012 sebanyak 74,93 juta. Jadi kalau kita jumlahkan maka ada 144,31 anak milinial dan gen z di bumi nusantara ini.

Generasi Milenial dan Generasi Z adalah generasi yang mengandalkan konektifitas digital dalam kehidupan sehari hari. Penggunaan email, sosial media, chatting hingga streaming adalah hal yang common yang biasa dilakukan. Gaya hidup yang cenderung lebih praktis dan pragmatis serta antipati pada hal hal yang bersifat politis merupakan hal biasa yang dalam kehidupan mereka.

Sementara masalah politik memang tidak menjadi fokus perhatian para milenial apalagi gen z. Hal ini tidak lepas dari minat terhadap pemberitaan seputar gaya hidup, film, teknologi yang dekat dengan kehidupannya. Sementara isu politik dianggap berat, rumit, dan membosankan. Tetapi kelompok ini memiliki pandangan politik sendiri, terutama menyangkut kehidupan keberagaman Indonesia, demokrasi, keamanan, serta pemberantasan korupsi.

Milenial dan Gen Z lebih mengapresiasi kinerja pemerintah—terutama di aspek telekomunikasi dan internet, pendidikan, transportasi publik, serta pembangunan infrastruktur. Tetapi dalam persoalan ekonomi dan ketenagakerjaan, mereka berpandangan pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Terutama dalam menyediakan lapangan kerja yang layak, persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Yang menarik data dari BPS mengatakan bahwa lebih dari 21 persen pengangguran adalah mereka yang lulus SMA dan Perguruan tinggi yang dikenal dengan istilah fenomena pengangguran terdidik.

Lalu bagaimana dengan partai politik ? ini yang menjadi pertanyaan besar. Partai politik masih di isi oleh generasi baby boomer dengan tahun lahir antara 1946 – 1964 dan generasi X antara tahun 1965 – 1980, bahkan masih ada partai politik yang isi pengurusnya dari generasi Pre-Boomer ( < 1945). Kelompok ini memiliki latar belakang dengan “konflik, kebimbangan dan ketimpangan”. Bisa loe bayangkan jika pengurus partai politik masih berkutat dengan masalah seperti itu. Istilah sekarang mending nyerah aja deh.

Buta digital parpol itu berakar dari pengurusnya, mereka yang ngga mau “move on” atau sekedar lipsing ikut ikutan bahasa seperti anak generasi milenial dan gen z adalah masalah utamanya. Generasi Pre-Boomer dan Baby Boomer akan berat untuk di ajak bicara soal startup, aplikasi, collabs, blockchain, NFT apalagi Cryptocurrency. Berbicara soal e-KTP saja masih seputar cetak mencetak. Padahal KPU yang jadi wasit dalam pesta demokrasi sudah mulai berbicara tentang integrasi data (API, JSON dsb). Yang lebih lucu lagi, ada yang berbicara soal Big Data tapi mindsetnya masih harfiah yang menganggap big data adalah komputer besar atau server besar dan infrastruktur sendiri yang di bangun sendiri (mindset: tender pengadaan).

Hal lain yang terkait dengan parpol adalah isu yang di bawa oleh parpol, dengan 144 juta lebih milenial mengatakan bahwa mereka adalah wong cilik juga bisa salah, karena kebutuhan mereka bukan lagi sembako tetapi biaya konektifitas alias internet. Kelompok milenial dan gen z tidak bisa di katakan lagi sebagai wong cilik semata karena polarisasi gaya hidup sudah berbeda. Selama ada pulsa dan motor gue ngga akan kelaparan istilah anak generasi milenial dan gen z yang masuk kategori di bawah kemiskinan.

Jadi apa yang harus di lakukan oleh parpol ?, Nah kalau menjawab soal ini, kita perlu duduk bareng dan merumuskannya sesuai dengan tujuannya. Kalau sekedar untuk di kenal (popularitas) jauh lebih mudah karena media lebih banyak dan terbuka, tetapi gimana mendapatkan suara dan menyentuh pikiran generasi kelompok ini maka perlu banyak hal yang perlu dibicarakan ?

Gimana tertarik ? Yuk diskusi

-Bona-

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
100 %