Lihatlah mereka yang berteriak anti KKN kini mencoba mencari pembenaran karena terpelihara oleh kekuasaan

- BS -
Sempalan Mahasiswa 98
30 September 2022

BONA

Verba Volant Scripta Manent

Nalar, Nurani Dan Kebebasan Berbicara

Penggabungan kedua tools dalam kebebasan berbicara merupakan sejatinya mereka yang disebut sebagai manusia. Hasil dari kedua proses tersebut pastinya akan membuat seseorang dihormati. Sementara jika hanya mengandalkan satu tools saja maka dapat berpotensi merugikan orang lain apalagi ketika ia berada dalam posisi yang dapat menentukan.
Views: 140
0 0
Read Time:2 Minute, 2 Second

Kebebasan bicara tanpa nurani dan nalar adalah pembodohan terhadap anak nusantara. Setiap warga negara Indonesia memang mendapat jaminan dalam kebebasan berbicara dan berkumpul tetapi ketika kebebasan itu tidak dilandasi dari hasil penalaran dan kompas nurani maka akan dapat menyesatkan banyak orang.

Tahun 1998 perjuangan untuk membuka kebebasan itu berhasil dilakukan oleh para intelektual muda yang berbasis dari kampus kampus di seluruh Indonesia. Tidak ada yang bisa mengklaim bahwa itu adalah perjuangan pribadi atau satu kelompok saja. Bahkan kaum intelektual seperti mahasiswa pada saat itu juga tidak terlepas dari dukungan masyarakat, mulai dari rakyat jelata sampai pengusaha yang ikut membantu dengan kemampuannyabmasing masing. Saya adalah saksi dan pelaku yang ikut dan melihat langsung bagaimana proses pencetusan reformasi di Indonesia.

Nalar adalah logika yang mempertimbangkan manfaat dan kerugian dalam suatu hal. Bahwa itu dapat menguntungkan banyak orang atau sebaliknya adalah bagian dari proses pertimbangan itu yang tentunya menggunakan jasad tubuh sebagai perangkat pemrosesnya dalam hal ini biasanya otak (brain).

Nurani adalah pemikiran mendalam yang diberikan kepada manusia sebagai mahluk terdekat yang menyerupai penciptanya. Nurani selalu mengatakan kebaikan sejahat apapun manusia itu. Nurani tidak menggunakan jasad sebagai alat pemrosesnnya tetapi lebih kepada energi yang menjadi inti dari manusia atau dalam berbagai keyakinan banyak disebut dengan ruh atau soul.

Kedua tools yang dimiliki oleh setiap manusia inilah yang menjadi ia sebagai manusia. Nalar yang tajam dan intelek tentu dilatih dari lingkungan, tingkat pendidikan hingga pengalaman hidup seseorang, sementara nurani default dari human being dimana akan selalu memiliki frasa welas asih, cinta dan kemanusiaan.

Penggabungan kedua tools dalam kebebasan berbicara merupakan sejatinya mereka yang disebut sebagai manusia. Hasil dari kedua proses tersebut pastinya akan membuat seseorang dihormati. Sementara jika hanya mengandalkan satu tools saja maka dapat berpotensi merugikan orang lain apalagi ketika ia berada dalam posisi yang dapat menentukan.

Ramainya mereka yang mengklaim sebuah perjuangan melawan tirani dan mengubah Indonesia melalui reformasi hanyak karena perbedaan pendapat tentang kebebasan berbicara dan tindakan yang dilakukan adalah bukti bahwa kedua tools diatas belum digunakan oleh mereka. Penggunaan nalar yang membangun asumsi dengan pengaruh lingkungan atau kepentingan diri dan golonganya menjadikan para pengklaim reformasi menjadi tertawaan generasi sebelum dan sesudahnya.

Jika hal ini diteruskan maka akan menjadi tontonan yang lucu dan membangun citra buruk akan tujuan reformasi yang dilakukan saat itu. Namun dalam konteks positif bahwa tontonan itu membuktikan bahwa kebebasan yang model mana yang sebenarnya diperjuangkan 22 tahun lalu itu. Kebebasan tanpa nalar atau dengan nalar tetapi tak bertanya pada nurani. ? Ah jawab saja sendiri…

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %