Lihatlah mereka yang berteriak anti KKN kini mencoba mencari pembenaran karena terpelihara oleh kekuasaan

- BS -
Sempalan Mahasiswa 98
24 May 2022

BONA

Verba Volant Scripta Manent

Hamba Dunia Digital, Glamor Di Sosial Media

Views: 31
0 0
Read Time:1 Minute, 49 Second

Sering ngga loe denger atau membaca pernyataan para pejabat yang mengatakan bahwa sekarang pemerintah berbasis elektronik atau digital ?. Kesannya sih keren ya bisa bicara begitu padahal itu semakin membuktikan bahwa mereka selalu tertinggal dari apa yang terjadi di kenyataan.

Pemerintah harusnya tidak mengatakan bahwa sekarang mereka berbasis elektronik karena sejatinya pemerintah itu melayani rakyatnya dan menjadi fasilitator dan katalisator dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi rakyatnya. Jadi basis utamanya ya melayani masyarakat, bukan berbasis pada digital. Bahwa di masyarakat ada yang sudah biasa dengan sistem digital atau elektronik tetapi ada juga yang memang karena satu hal tidak mendapatkan akses terhadap hal tersebut. Kedua kategori ini wajib hukumnya dilayani.

Bisingnya para pelayan masyarakat mulai dari tingkat bawahan sampai pimpinan di dunia digital tidak akan mengubah persepsi masyarakat jika secara defakto tidak langsung di rasakan pelayanannya. Misalnya saja seorang pemimpin di tingkat tertentu selalu aktif dengan dunia digitalnya baik itu melalui media digital konvesional seperti online news hingga media sosial, tidak akan mendapat tone positif ketika tidak ada tindak lanjutnya secara nyata.

Pelayan masyarakat juga harusnya dibiasakan dengan budaya malu terhadap rakyatnya, karena bagaimanapun mereka melayani rakyat yang tentunya menggaji mereka melalui pajak dan lainnya. Seorang pelayan masyarakat seperti ASN harusnya malu ketika memposting tentang kehidupan “glamornya” atau sekedar makan bersama dengan rekannya sementara ia masih melihat masyarakat yang harus dilayaninya terpuruk dan hanya bisa mengelus dada.

Mungkin perlu juga dipahami bahwa sekarang ini dengan mudahnya masyarakat melihat di sosial media tentang “glamorisasi” pelayan publik. Mulai dari aksesoris yang digunakan hingga “candid” foto tanpa di sadari oleh sang pelayan rakyat. Mulai dari pemimpin tertingginya seperti menteri sampai yang baru menjadi aparatur negara. Bukan melarang tetapi lebih kepada empati akan tanggung jawab moralnya terhadap masyarakat itulah yang membuatnya tidak pantas mengumbarnya.

Kembali ke topik, bahwa para pelayan publik ini diharapkan tidak menghamba pada dunia digital, tetapi harusnya menjadi pelayan yang mampu menggunakan dunia digital sesuai dengan tusi (tugas dan fungsinya). Nasib anda sebagai pelayan masyarakat memang mengharuskan memiliki empati yang lebih dan menekan ego diri untuk tidak sembarang memposting “glamorisasi diri” dalam skala apapun. Jika terlalu berat maka mundurlah dan keluarlah menjadi pengusaha atau pegawai swasta saja dan biarkan mereka yang memiliki empati dan jiwa melayani mengisinya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %